Malam itu juga, tepat di kamar sebelah, Sasha sedang menyisir rambut Lady-nya.
“Terima kasih, Sasha,” kata Luna. “Itu sudah cukup.”
“Tentu, Lady. Kalau boleh tahu, apa rencana Anda besok?”
“Sepertinya aku meninggalkan sesuatu di kelas. Aku berniat bangun lebih awal supaya bisa mampir dan mengambilnya.”
“Saya sungguh tidak ingin Anda repot-repot begitu, Lady. Perlukah saya menghubungi pihak akademi dan mengambilkannya untuk Anda?”
“Tidak perlu, terima kasih. Sekarang, kurasa aku sebaiknya tidur lebih awal kalau besok ingin berangkat pagi-pagi.”
“Baik, Lady.”
Sasha pun pamit dengan curtsey, lalu menutup pintu dengan lembut di belakangnya. Setelah yakin tidak ada yang bisa mendengarnya, ia menghela napas kecil.
“Itu kenapa?” tanya Blish, dengan wajah sedatar biasanya.
Sasha menghela napas lagi. Kali ini lebih panjang. “Bukan apa-apa. Tidak ada apa-apa.”
Blish sama sekali tidak merasa itu “bukan apa-apa.” Jelas sekali itu tidak tampak seperti bukan apa-apa.
Sasha tetap berdiri di depan pintu, menatap kosong ke arahnya. Lady-ku terasa berbeda. Aku tak bisa menjelaskannya, tapi dia benar-benar tidak seperti dirinya sendiri. Ya ampun, andai aku bisa mengerti apa yang sedang terjadi.
Luna, yang kini sendirian, melirik ke sudut gelap di dekat tempat tidurnya. Sudut itu kecil, terlalu kecil untuk menampung bayangan yang membentuknya. Namun dari sanalah seorang anak laki-laki muncul, seolah meluncur keluar dari kegelapan itu sendiri, sambil mengerang dan memegangi dadanya.
Luna menatapnya dingin. “Kehilanganku adalah rasa sakitmu. Ironis, ya?”
Kabut gelap mengalir keluar dari tubuh anak laki-laki berambut ungu itu. Esensi Dark One yang tersisa memang sudah sangat lemah, tetapi tetap saja cukup untuk belum sepenuhnya kehilangan pengaruh atas wadahnya. Bjork masih melawan. Ia sudah muak menjadi budak, muak tunduk pada kekuatan yang lebih tinggi, mengotori tangannya demi orang lain, dan menanggung pukulan untuk mereka. Kali ini, ia ingin menentukan nasibnya sendiri.
Tapi bahkan sepersekian kecil kekuatan Dark One pun tetap sangat besar, dan perlawanan itu perlahan menghancurkan tubuh Bjork. Ia sedang kalah.
Ia roboh ke lantai. Luna mendekat saat tubuhnya menggeliat, lalu mengangkat telapak tangannya. Kabut gelap yang sama, kekuatan pinjaman dari Dark One, merembes keluar dari tubuhnya.
“Wadah ini akan bertahan. Dengan sedikit bantuan,” katanya.
Bjork menjerit tanpa suara, jeritan serak dan mentah, saat kabut itu menyelimutinya. Perlahan, kabut itu pun lenyap, begitu juga cahaya di matanya. Ketenangan kembali, dan tak lama kemudian, dengan wajah kosong, Bjork berdiri lagi.
“Besok, aku akan mendapatkan apa yang dijanjikan padaku. Kau yang akan mewujudkannya,” kata Luna.
Bjork tak berkata apa-apa. Ia hanya mundur perlahan kembali ke dalam bayangan.
“Besok, Luciana. Besok...” gumam Luna.
Kamar tidurnya pun tenggelam dalam gelap.
Keesokan paginya, Luciana pergi menemui Luna. Sayangnya, ia mendapati Luna tidak ada. Rupanya Luna pergi lebih dulu ke ruang kelas karena katanya ada sesuatu yang tertinggal di sana.
“Izinkan saya ikut menemani Anda, Lady,” desak Melody.
“Tidak. Aku akan pergi sendiri.”
“Tapi, Lady!”
“Aku akan baik-baik saja. Aku janji. Aku cuma ingin bicara. Aku harus tahu kebenarannya, dan kalau memang seperti yang kutakutkan, aku harus tahu alasannya. Kau tidak perlu ikut.”
Melody menggertakkan gigi di balik bibir yang tertutup rapat. Itu kalimat yang paling tak bisa ia lawan. Ia harus menghormati keinginan Lady-nya, kalau tidak ia justru akan menjadi beban, dan itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi pada seorang pelayan.
“Aku akan segera kembali,” kata Luciana.
“I-iya, Lady,” jawab Micah dengan kikuk.
Semangat Melody tetap tenggelam sepenuhnya. “Ya, Lady.”
Luciana pun pergi.
Akademi terasa sunyi pagi itu. Biasanya, semua pintu akan tetap terkunci saat tidak ada kelas, tapi entah kenapa Luciana bisa mencapai Kelas A dengan sangat mudah.
Dan di sanalah dia.
“Luna.”
Luna menyapa temannya seperti biasa. “Selamat pagi, Luciana.” Dengan senyuman.
Tapi itu bukan senyum yang dikenal Luciana. Bukan senyum yang ia kenali. Apa senyum itu memang berubah? Atau justru Lucianalah yang berubah? Ia sendiri tak tahu.
“Aku harus menanyakan sesuatu padamu, Luna.”
“Ngomong-ngomong, kau ingat urutan debut kita di Spring Ball? Tepatnya, kapan namaku dipanggil?”
“Apa? Aku tidak—”
“Aku memang tidak menyangka kau akan ingat.” Luna terkikik. “Itu tepat sebelum namamu, bodoh.” Luciana tetap diam. “Bukan salahmu. Siapa yang akan mengingat gadis biasa sepertiku? Tapi jangan bohong pada diri sendiri. Sekalipun aku urutan ketiga, kedua, atau pertama, aku tetap akan lewat tanpa dilihat siapa pun. Dan setelah kau masuk? Ya Tuhan, seolah-olah aku bahkan tidak pernah ada.” Ia terkekeh lagi. Tawa yang tulus, seolah ia sedang menceritakan lelucon. “Dulu aku pikir kau gadis paling cantik di dunia. Begitu sempurna, begitu indah, dan, yah, kau memang Fae Princess. Kalau aku harus kalah dari seseorang, setidaknya orang itu kau.” Ia mendecak kecil. “Aku mencoba. Aku sungguh mencoba berhenti sampai di situ. Tapi aku tidak bisa. Aku iri.”
“Luna...”
“Aku belajar berjam-jam. Ah, malam-malam tanpa tidur itu. Tapi kau mengalahkanku lagi. Ujian tengah semester bukan kesempatanku.” Ia mulai mondar-mandir di ruangan. “Aku selalu mengagumi Lord Maxwell, tapi justru kau yang dia undang untuk masuk dewan siswa. Itu juga bukan kesempatanku.”
“Luna, aku yang mengajukan namamu.”
“Oh, dan betapa rendah hatinya kau saat melakukan itu,” ejek Luna. “Aku pasti terlihat sangat menyedihkan di matamu.”
“Aku sama sekali tidak memandangmu seperti itu!”
“Kita setara, kau dan aku. Sama-sama putri count. Tapi keluargamu punya wilayah kekuasaan, sementara status kami hanya berasal dari jabatan. Itu saja sudah cukup membuatmu lebih unggul, kurasa. Aku bahkan tak punya harapan di sana, karena kami ini Nobles of the Robe, dan keluarga Ignoble mungkin bahan tertawaan, tapi setidaknya mereka masih punya tanah.” Tawa kecilnya berubah menjadi gelak cemooh. “Ini tak pernah berakhir.”
“Luna! Semua ini datang dari mana? Bukankah kita teman? Aku pikir kita cocok sejak pertama kali bertemu.” Perut Luciana terasa jatuh saat Luna tak menjawab. “Luna?”
“Iya. Kurasa memang kita cocok. Aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Itu tidak bisa kusangkal. Tapi untuk setiap sedikit rasa sayang yang kurasakan, ada kecemburuan dalam jumlah yang sama. Setiap rasa cinta tertutup oleh kebencian murni yang mendidih!”
Energi gelap mendadak meledak keluar dari tubuh Luna.
“Ini... mana?!” Luciana tersentak. “Kekuatan ini...!”
Gelombang sihir memancar dari Luna, begitu padat sampai Luciana bisa melihatnya bergetar di udara dan merasakan hantamannya ke tubuhnya. Sebuah angin puyuh tercipta, melempar meja dan kursi ke segala arah. Luciana menunduk dan menghindari furnitur yang beterbangan.
Luna tertawa tergila-gila. “Ya! Ya! Inilah semua yang kuinginkan! Iri hatiku, amarahku, kebencianku, semuanya telah menjadi kekuatanku! Dengan ini, akhirnya aku bisa mendapatkan yang selama ini kuinginkan. Dunia tanpa dirimu!”
Retakan menjalar di dinding. Lantai tampak seolah siap terbelah. Bahkan langit-langit pun mulai mengerang, sampai seluruh ruangan tampak akan hancur. Ini bukan lagi Royal Academy. Bukan lagi ruang kelas. Melainkan ruang gelap tak bertepi, tak berujung.
“Kau tak punya tempat untuk lari, Luciana. Kau milikku!” Luna mengulurkan tangan, dan bola energi gelap mulai berkumpul di depan telapak tangannya. Energi itu berderak dan berkilat, seolah kekuatan itu sendiri haus untuk dilepaskan, tumbuh terlalu besar untuk ditahan.
Luciana bahkan tak bisa membayangkan kehancuran seperti apa yang akan terjadi kalau kekuatan itu lepas. “Hentikan ini, Luna! Tolong!”
“Akhirnya, aku bisa sungguh-sungguh berkata bahwa aku bahagia. Selamat tinggal, temanku. Hari ini, penderitaanku akan mati oleh tanganku sendiri!” Senyum gila merekah di wajahnya.
Di salah satu matanya, tergantung satu tetes air mata yang bergetar.
“Luna!”
Bola energi itu akhirnya lepas dan menghantam sasarannya. Semburat kegelapan menelan dunia palsu itu, mendistorsi kenyataan dan hampir merobek masuk ke dunia nyata.
Luciana lenyap.
“Selamat tinggal. Akhirnya, aku telah... Apa?”
“Um...”
Mustahil, tapi Luciana masih berdiri tepat di tempat yang sama. Jelas-jelas masih hidup. Tak satu pun dari mereka mengerti apa yang baru saja mereka saksikan. Luna, yang tadi begitu yakin akan kemenangannya, kini membelalak tak percaya pada pemandangan di depan matanya. Luciana, yang tadi sudah yakin akan mati, juga sama tak percayanya karena ia masih punya mata untuk melihat semua itu.
Luciana pulih lebih dulu. Ia memeriksa dirinya sendiri, menarik lengan bajunya, mengibas-ngibaskan roknya. Lalu mengangguk.
“Oke. Jadi jelas itu tidak cukup untuk meledakkanku berkeping-keping. Bahkan aku tidak tergores sedikit pun. Jauh sekali dari ‘berkeping-keping,’ kurasa.”
“A-apa arti semua ini?”
Bibir Luciana terangkat membentuk senyum miring yang pongah. “Akan kuberitahu artinya. Artinya aku ternyata memang tidak sendirian, dan semua omong besarku soal datang ke sini sendirian benar-benar sia-sia.”
“Kau bicara omong kosong!” teriak Luna. Ini seharusnya tidak terjadi.
“Aku sudah mendengarmu, Luna.” Wajah Luciana mengeras. Ia mengepalkan tangan dan menahannya di depan dada. “Tapi sekarang giliranku bicara. Terus terang, aku tidak cukup sabar, dan juga tidak cukup baik hati, untuk menunggu sampai kau setuju.” Ia melangkah maju dengan berani. Luna justru mundur sejauh langkah itu. “Jadi baiklah. Kalau memang begini caramu mau melakukan semuanya, maka aku akan bicara dengan bahasamu. Tapi kuharap kau tahu betul apa yang sedang kau hadapi.”
Ia melontarkan tinjunya lurus ke depan.
“Karena Luciana Rudleberg tidak pernah mundur!”
Di tempat lain, jauh dari pertarungan ala manga shonen itu...
“Miss Melody! Miss Melody, daun tehnya!”
“Hah? Oh!”
Dalam usaha mengalihkan pikiran dari Lady-nya, Melody sedang membuat seteko teh. Dengan kualitas yang sangat buruk. Tenang saja, menjatuhkan daun teh ke lantai itu bukan teknik rahasia seorang maid untuk menambah cita rasa.
“Ya ampun, terbuang sia-sia.”
Melody menuangkan daun teh yang terbuang itu ke tempat sampah.
“Padahal bukannya daun teh bekas bisa dipakai untuk bersih-bersih?” gumam Micah.
“Hm? Oh, demi cinta kasih...!”
Sudah terlambat. Daun itu sekarang sudah jadi sampah.
Heroine kita ini benar-benar lagi agak error. Seorang maid of all wack, kalau boleh dibilang begitu, pikir Micah.
Ucapan Lady-nya bahwa dirinya “tidak diperlukan” benar-benar mengguncang kondisi mental Melody, sampai ia seperti mundur menjadi heroine kosong kepala dan ceroboh ala zaman dulu.
Yang semuanya tentu membuat Micah khawatir. Hari ini sangat mungkin adalah hari pertarungan boss.
Pada tahap ini, sangat besar kemungkinan bahwa Luna Invidia adalah Penyihir Cemburu. Dan Luciana, sang heroine pengganti, yang pergi untuk menyelesaikan semuanya sendiri cuma bisa berarti satu hal: Ia sedang berjalan lurus ke klimaks arc itu. Semuanya akan dimulai dengan konfrontasi kata-kata, lalu begitu Penyihir Cemburu sadar penyamarannya terbongkar, konflik akan meningkat jadi pertarungan. Dalam game, konflik ini berlangsung di depan umum, tapi versi kali ini kemungkinan besar tidak begitu. Melody ikut bersama Luciana seharusnya akan jauh lebih sesuai dengan alur asli, tapi kesempatan itu sudah lewat.
Ia telah dinyatakan “tidak diperlukan,” dan itu jelas sangat merusak kestabilan mentalnya.
Jeritan nyaring menarik Micah dari lamunannya. Melody tersandung ujung roknya sendiri. Setelah membangun reputasi sebagai maid paling sempurna dan paling kuat dari segala maid, jatuh seperti ini lebih terasa seperti menukik menghantam tanah secara tidak anggun daripada sekadar jatuh dari keagungan.
Micah sangat sadar akan kemampuan Melody, karena ia sendiri sudah melihatnya langsung di kediaman keluarga. Statistiknya mungkin sudah mentok, kalau memang belum mentok hanya lewat kemampuan alami saja. Micah tak bisa memahami bagaimana Melody bisa mencapai level seperti itu, tapi justru karena bakat itulah Micah tadi tak memprotes keputusan Luciana untuk meninggalkannya.
Sihir yang tertanam pada seragam Luciana akan menjaganya tetap aman, apa pun yang terjadi. Tapi karena Luciana tidak punya cara untuk menyerang balik, Micah mulai bertanya-tanya apakah pertarungan itu nantinya akan pernah benar-benar selesai. Plot mungkin sudah menjadikan Luciana heroine demi menjaga cerita tetap berjalan, tapi heroine yang asli, yang punya kekuatan sungguhan, justru terlalu sibuk jadi maid of all wack dan mengusap lutut yang memar untuk menuntun dunia ini ke happy ending. Apa jadinya dunia ini tanpanya? Jelas tidak baik, apalagi kalau Melody tak segera sadar.
Micah bisa merasakan keraguan Melody. Ia berdiri di persimpangan jalan, tapi menolak melangkah ke jalur mana pun. Ini tak bisa dibiarkan terus. Sampai heroine memilih, dunia akan tetap diam... atau lebih buruk dari itu.
Melody bangkit berdiri sambil mengusap bagian tubuhnya yang masih sakit. “Micah?”
Micah mendekat. “Apa rencananya?”
“Rencana? Kau dengar sendiri apa yang Lady kita katakan.”
“Aku dengar. Lady Luciana sudah membuat pilihannya. Tapi itu bukan yang kutanyakan. Pilihanmu apa, Miss Melody? Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?”
Melody mundur sedikit. Ini benar-benar Micah yang sama? “Tapi Lady kita bilang...”
“Aku tahu apa yang Lady kita bilang. Aku bertanya apa yang ingin kau lakukan. Kita memang diperintahkan menunggu beliau kembali. Apa kau akan menaatinya? Apa kau akan mengejarnya? Atau kau akan melakukan sesuatu yang lain sama sekali? Pilihannya ada di tanganmu, Miss Melody.”
“Pilihannya... ada padaku.”
Tidak peduli siapa yang jadi pengganti, pikir Micah, peran Miss Melody tidak akan pernah berubah. Selama dia memegang kekuatan Sang Saint, dia boleh saja memakai seragam seorang maid biasa, tapi dia tetap satu-satunya heroine. Nasib Lady kita, nasib plotnya, bahkan nasib seluruh dunia ada di pundaknya! Keyakinan Micah tak goyah, meski ia tak punya bukti. Semuanya dimulai dan diakhiri olehmu, Melody. Jadi pilihlah!
“Kau adalah seorang maid, dan Lady-mu sedang membutuhkanmu,” kata Micah. “Sekarang, bagaimana kau akan melayaninya?”
“Lady-ku...”
“Apa yang akan kau lakukan untuknya? Saatnya memilih, Miss Melody!”
“Aku...”
Dan Melody pun membuat pilihannya.
“Permisi, Tuan, tapi saya benar-benar merepotkan Anda untuk segera mengangkat bokong Anda dan keluar. Saya harus membersihkan ruangan ini.”
“Aku kenal beberapa maid yang mungkin akan tersinggung dengan cara bicaramu, Paula.”
Lect sedang bersantai di rumahnya, benar-benar memanfaatkan hari liburnya dari akademi. Terlalu memanfaatkannya, menurut maid serba bisanya, yang kini berdiri sambil memegang alat bersih-bersih.
“Jangan paksa aku menyeretmu ke pangkuanku. Aku sama sekali tidak tertarik jadi ibumu,” omel Paula. “Sekarang bergerak!”
“Aku memang mengagumi kepribadianmu yang kuat itu, tapi kadang aku berharap kau juga menunjukkan sedikit... penahanan diri.”
“Itu apaan?”
Sebuah pintu kayu sederhana tiba-tiba muncul begitu saja di pinggir ruangannya.
Pintu itu terbuka.
“Maaf, tapi tidak ada waktu menjelaskan! Lect, aku butuh bantuanmu!” kata Melody.
“Wah, timing-nya pas sekali, Melody,” kata Paula. “Dia milikmu. Dah-dah! Selamat jalan! Pergi sana, Tuan!”
“Apa? Sekarang ada apa—Tunggu! Berhenti! Pegang—Melody!” Lect tergagap. “Tidak usah menarikku begitu! Aku ikut!”
“Bersenang-senanglah kalian berdua!”
Pintu itu tertutup begitu mereka melewatinya, dan Paula pun menghela napas. “Baiklah. Sampai mana tadi?”
Maid itu pun kembali menjalani harinya tanpa memikirkannya dua kali.
Melody telah membuat pilihannya: mencari bantuan. Dari semua tempat yang ia tahu untuk mencarinya.
Anna-Marie adalah salah satu dari sedikit murid yang tetap tinggal di kampus akhir pekan itu. Ia dan Christopher, yang lagi-lagi menyelinap masuk, sedang menelaah semua yang mereka ketahui tentang Insiden Penyihir Cemburu.
“Jadi putri Duke Rincot’dor ternyata memang bukan pelakunya. Dia justru si villainess,” rangkum Christopher. “Berarti dia bertukar peran sama dirimu?”
“Berdasarkan monolognya setelah insiden air itu, iya,” kata Anna-Marie. “Meski harus kuakui, terdengar lebih konyol saat kalimat-kalimat itu keluar dari mulut Olivia. Anna-Marie yang asli seharusnya karakter bodoh, gampang panas, dan nyaris jadi comic relief.”
“Wah. Aku rela bayar mahal buat lihat kau memainkan peran itu.”
“Boleh. Tapi bayarannya lengan dan kakimu. Harfiah.”
“Pernah kubilang belum kalau kau mulai agak menakutkan?”
Anna-Marie memutar kembali semua fakta di kepalanya. Olivia kemungkinan besar tidak bersalah, tapi kalau begitu siapa Penyihir Cemburu yang sebenarnya? Kekuatan Penyihir itulah pastinya yang membuat orang-orang berbalik melawan Luciana.
Dalam game, hujan hitam turun dan mencuci otak semua orang di Royal Academy, tapi efeknya ringan. Mereka yang punya bakat sihir di atas tingkat tertentu bisa menahannya, itulah sebabnya pihak pengelola sekolah tidak terlalu terpengaruh, sementara murid-murid lain jadi lebih mudah menuding. Khususnya pada Luciana. Tapi kalau begitu, kenapa Olivia juga ikut terpengaruh? Dia penyihir yang kuat. Apa memang dia murni sebegitu bencinya pada Luciana, terlepas dari pengaruh Dark One?
Dengan memakai plot asli sebagai pijakan, Anna-Marie bisa berasumsi bahwa Penyihir yang asli ada di Kelas A.
Ia menelusuri daftar murid itu untuk entah yang ke berapa kalinya. Pelakunya kemungkinan besar berambut pirang, dan harus mampu memanipulasi sihir air. Dia juga harus punya alasan untuk membenci heroine pengganti itu, yang berarti ia punya koneksi tertentu dengan Luciana. Itulah faktor terpenting, lebih penting dari warna rambut, kemampuan sihir, atau apa pun—Penyihir Cemburu harus iri pada Luciana. Tanpa rasa iri, hati takkan retak, dan Dark One tak bisa mengisinya.
Perlahan, jari Anna-Marie menyusuri daftar nama itu. Lalu berhenti.
“Luna Invidia,” bacanya keras-keras.
Dia cocok kalau dilihat dari kedekatannya dengan Luciana, tapi mereka itu sahabat dekat. Dia selalu jadi orang pertama yang membela Luciana. Meski begitu...
Lebih sering daripada tidak, pembelaan Luna justru malah memperburuk posisi Luciana. Saat Anna-Marie mengingat kembali semua insiden itu, pembelaan Luna selalu berakhir dengan semakin menjerat Luciana.
“Luna?” ulang Christopher. “Memangnya kenapa dia? Maksudku, kalau kita bicara trop shoujo, dia memang tersangka utama. Biasanya kan memang sahabat dekat tokoh utama yang ternyata diam-diam dalang semua tukang bully. Terus ada adegan klasik ‘Aku tidak pernah suka padamu! Kita tidak pernah berteman!’ Paham maksudku, Anna?”
Untuk pertama kalinya, Anna-Marie tidak merasa ingin menjambak kepalanya gara-gara komentar sembrono seperti itu. Bocah itu ada benarnya. Perempuan memang bisa kejam satu sama lain. Dan Anna-Marie sendiri tahu itu.
Tepat saat itu, seseorang mengetuk pintu.
“Maaf mengganggu, Lady,” panggil Claris. “Apakah Anda punya waktu sebentar?”
“Ada apa?”
“Seorang maid-in-training dari keluarga Rudleberg ingin menemui Anda.”
“Maid-in-training? Bukan Luciana?”
“Katanya ini soal Luciana. Gadis itu bilang sangat penting.”
“Penting?” Alis Anna-Marie langsung bertaut. Ia melirik Christopher dan menunjuk ke atas, memberi isyarat agar ia bersembunyi di jalur rahasia mereka di plafon. “Persilakan dia masuk.”
Anna-Marie buru-buru menyiapkan ruang tamu di ruangan sebelah untuk menerima tamu itu, lalu sang gadis pun masuk.
“T-terima kasih banyak karena mau menerima permintaan saya yang mendadak dan lancang ini, Lady. Saya merasa t-terhormat bisa bertemu dengan Anda,” kata gadis itu.
“Bukan masalah. Mau minum teh? Silakan duduk.”
“Anda terlalu baik, Lady, tapi saya khawatir waktu kami tidak banyak. Maafkan saya kalau saya mengabaikan formalitas demi urgensi.”
“Mengerti. Lanjutkan.”
Dan di kamar Anna-Marie itulah, sebuah reuni yang seharusnya ditakdirkan akhirnya terjadi. Asakura Anna, Kurita Hideki, dan Kurita Maika tanpa sadar berdiri di tempat yang sama. Betapa kejamnya kenyataan bahwa mereka tak punya kemewahan waktu yang cukup untuk menyadarinya.
Micah menjelaskan semua yang ia bisa tentang situasi Luna. Bagaimana setiap pembelaan Luna justru berujung makin menjerat Luciana, bagaimana urusan pergi ke perpustakaan pada hari insiden air itu adalah kebohongan telanjang, dan bagaimana Luna dengan sangat nyaman memilih keesokan harinya, tepat pada hari libur, untuk datang ke kelas. Terakhir, Micah memberi tahu bahwa Luciana sudah pergi menemuinya.
“Lady kami memerintahkan kami untuk menunggunya, tapi kami benar-benar tidak sanggup berhenti khawatir,” kata Micah.
Melody-lah yang mengusulkan solusi kreatif ini. Ia menolak untuk menunggu, tapi ia juga tak ingin bertindak gegabah. Namun ada orang lain yang bisa melakukan apa yang tak bisa ia lakukan. Karena itulah ia menugasi Micah untuk memohon bantuan Anna-Marie, yang tinggal satu lantai di atas mereka.
Itu murni tebak-tebakan di hari saat kebanyakan murid pulang ke rumah. Anna-Marie bisa saja sedang pulang bersama keluarganya juga, tapi keberuntungan sedang berpihak pada para maid keluarga Rudleberg.
Aneh, pikir Micah. Kukira Anna-Marie Victillium itu seharusnya bego setembok bata.
Setelah menemui jalan buntu dengan Melody, Micah praktis sudah menyerah pada kemungkinan ada orang lain dari Bumi yang hidup di dunia ini. Pikiran bahwa mungkin ada orang lain seperti dirinya bahkan sama sekali tidak sempat terlintas saat ia berdiri di kamar Anna-Marie.
Anna-Marie langsung bangkit. “Aku keluar dulu, Claris.”
“Baik, Lady,” jawab lady-in-waiting itu. “Apakah saya perlu ikut?”
“Tidak perlu. Dan tolong siapkan segala sesuatunya secepat mungkin. Ini bisa jadi keadaan darurat.”
“Kelihatannya memang begitu.”
Pintu ruang tamu itu terbuka pelan, dan seorang sosok agung masuk ke dalam.
Seorang pria, bahkan.
“Y-Y-Your Highness! T-tapi ini asrama wanita!” jerit Claris. Micah pun sampai membelalakkan mata. “Kalian bahkan belum bertunangan! Ini skandal! Ini...!”
“Claris,” bentak Anna-Marie. Tatapannya bisa menembus baja, dan seketika itu juga Claris terdiam. “Kita tidak punya masalah, bukan?”
Claris membeku, lalu akhirnya memberi curtsey. “Saya akan membawa ini sampai ke liang kubur, Lady.”
“Bagus sekali. Terima kasih, Claris. Dan itu berlaku juga untukmu, Micah.”
Punggung maid muda itu langsung kaku lurus. “Y-ya, Lady!” Ternyata dunia kalangan atas memang benar-benar menuntut banyak hal.
“Keadaannya bisa jadi runyam,” kata Christopher. “Kau keberatan?”
“Tidak sama sekali,” jawab Anna-Marie.
Sang pangeran mengeluarkan belati perak, mengangkatnya, lalu melafalkan, “Penciptaan—Alchemy!”
Berbagai benda perak kecil di ruang tamu itu seketika terurai pada sambungan-sambungan tak terlihat dan berkumpul di sekitar belati itu, memanjangkannya menjadi longsword yang kokoh.
Micah hanya bisa melongo kagum. Wah! Aku bahkan tidak tahu pangeran bisa melakukan itu! Coba bayangkan punya kakak laki-laki seperti dia!
Sayangnya, ia hanya bisa membayangkannya. Kemiripan keluarganya nyaris nol saat ini.
“Aku pergi dulu,” kata Christopher.
“Aku akan menyusul setelah menyiapkan diriku sendiri,” kata Anna-Marie. “Dan kirim kabar pada Lord Maxwell. Semakin banyak semakin baik. Dia pasti ada di ruang dewan siswa.”
“Akan kulakukan.”
Christopher melempar jendela hingga terbuka. Micah bingung, untuk apa.
“Wah, wah, wah!” teriaknya saat Pangeran Christopher melompat lurus keluar jendela. Dari lantai tiga. “Dia sedang...?! Dia... dia melompat di atas udara!”
Ia buru-buru lari ke jendela dan melihat sang pangeran turun perlahan ke tanah di atas pijakan-pijakan tak kasatmata. Nah, itu baru laki-laki! Benar-benar beda jauh dari kakak laki-lakiku!
Sayangnya! Ia tetap cuma bisa membayangkan. Kemiripan keluarganya nyaris nol saat ini.
“Nah. Aku sudah siap. Serahkan sisanya pada kami, Micah.” Anna-Marie, kini sudah berganti dari pakaian biasa ke seragamnya, mendekati jendela yang sama lalu melafalkan, “Ringan bagai udara—Airstep.”
Dengan memadatkan udara di bawah kaki mereka hanya sekejap, Anna-Marie dan Christopher bisa seolah melompat di udara. Itu adalah mantra ciptaan mereka sendiri, dan sangat berguna dalam keadaan seperti ini saat masalahnya menyangkut perbedaan tinggi.
Anna-Marie pun mendarat dengan aman di luar, lalu langsung berlari pergi.
Siapa orang-orang ini? pikir Micah. Orang-orang yang dipercaya Miss Melody untuk menolong Lady kita, kurasa. Eh, benar, masih jam kerja!
Setelah mengucapkan terima kasih cepat pada Claris karena sudah mau memahami, Micah langsung berlari secepat mungkin menuju ruang kelas.
Dia akan ada di sana! Aku tahu dia akan ada di sana! Kali ini kau tidak akan lolos, Bjork Quichel!
Ia teringat pertemuan terakhir mereka, rasa sakit yang mencengkeram anak laki-laki itu. Dark One mulai tergelincir. Mereka tidak benar-benar satu, dan itu berarti...
Dia masih bisa diselamatkan. Micah bisa menyelamatkannya.
Micah keluar dari asrama dan melesat menuju area utama kampus.
“Jujur saja, kalian berdua ini menganggapku sebenarnya siapa?”
Maxwell berseru putus asa.
“Teman cepat tanggap, sahabat karibku!”
“Dukunganmu selalu menjadi berkah, Lord Maxwell.”
Maxwell berusaha melotot, dan gagal. Sekarang dia, Christopher, dan Anna-Marie berdiri di depan pintu Kelas A, tapi pintu itu tampaknya sama sekali tidak berniat terbuka.
“Sepertinya kita menemui jalan buntu, Your Highness,” kata Maxwell. “Mungkinkah ini semacam barrier?”
“Mungkin, tapi apakah barrier ini bisa menahan pedangku?!” Christopher menuangkan mana ke dalam pedang peraknya lalu menghujamkannya ke pintu yang keras kepala itu. Kilatan hitam legam muncul saat bilah itu menghantam sesuatu yang gelap, asing, dan lebih keras dari besi. “Ternyata tidak berhasil.”
“Pertarungannya sudah dimulai,” gumam Anna-Marie. “Luciana...”
Keanehan keterlibatan Christopher dan Anna-Marie dalam semua ini tak luput dari perhatian Maxwell. “Kalian berdua tampak luar biasa selaras dengan situasi sekarang. Aku tersinggung. Kukira tak ada rahasia di antara teman.”
Maxwell sepenuhnya milik dunia ini. Ia tidak bereinkarnasi, jadi kemungkinan besar tak akan memahami separuh pun dari hal-hal yang membebani pikiran Christopher dan Anna-Marie, meski luapan-luapan aneh dari Christopher selama ini tetap ia abaikan dengan teguh.
Suatu hari nanti, ketika bahaya yang sebenarnya datang, mereka akan membutuhkan Maxwell sepenuhnya di pihak mereka. Konflik yang mereka hadapi sekarang sudah menjadi buktinya. Kalau Christopher dan Anna-Marie ingin Maxwell berdiri bersama mereka saat ancaman yang sebenarnya muncul, mereka harus mengatakan kebenaran padanya... suatu hari nanti.
“Kami akan memberitahumu semuanya. Segera,” kata Anna-Marie. “Setelah kita benar-benar melewati semua ini.”
“Kurasa itu cukup adil,” kata Maxwell. “Untuk saat ini aku akan fokus pada tugas kita, tapi aku akan menagih janji itu.”
“Kami tak pernah senang menyimpan rahasia, kawan,” tambah sang pangeran. “Lihat! Barrier-nya!”
Material gelap yang menjaga pintu itu mendadak retak. Sebuah garis perak memotong barrier itu, menyebar seperti jaring laba-laba dan melemahkan pertahanannya.
“Ini dari mana datangnya?” kata Anna-Marie.
“Siapa pun yang melakukannya, kita berutang budi padanya. Ini kesempatan kita!’’ kata Christopher.
“Semoga aku tak perlu mengingatkan kalian berdua bahwa menyelamatkan siapa pun yang ada di dalam itu tujuan utama kita,” kata Maxwell.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun jatuh ke kehancuran. Tidak di duniaku, tekad Anna-Marie. Tak akan ada tragedi!
“Barrier-nya turun!” teriak Christopher. “Ayo masuk!”