Pengumuman Albert yang terlalu mendadak membuat semua orang, termasuk aku, kebingungan.
Namun, tanpa memedulikan reaksi kami, dia malah menambahkan ucapan yang lebih membingungkan lagi.
"Besok akan kubuktikan siapa yang lebih pantas untuk Lady Liliana! Bersiaplah!"
"...Hah?"
Sambil melihatnya pergi dengan penuh percaya diri, aku hanya bisa memiringkan kepala.
Tentu saja, tatapan seluruh kelas kembali tertuju kepadaku.
Tak lama kemudian, Liliana menghampiriku dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Allen-san, boleh bicara sebentar?"
"A-ah, tentu."
Dilihat dari ucapan Albert tadi, sepertinya Liliana mengetahui sesuatu.
Tak lama kemudian, kami kembali menuju ruang tamu yang sama seperti saat istirahat makan siang.
Begitu tiba, Liliana langsung menundukkan kepala.
"Saya sungguh minta maaf. Sepertinya gara-gara saya, Anda jadi terseret ke dalam masalah yang merepotkan."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Saat kutanya, Liliana mulai menjelaskan.
Semuanya terjadi setelah pembicaraan kami saat istirahat makan siang berakhir, ketika Liliana dan rombongannya sedang menuju kantin.
Di sanalah mereka bertemu dengan rombongan Kelas A yang dipimpin Albert.
Mendengar rumor bahwa Liliana masuk ke Kelas E, mereka langsung menanyakan alasannya.
Saat itulah Albert berkata,
"Saya tidak mengerti! Itu kan Kelas E! Tempat itu sama sekali tidak pantas untuk Lady Liliana!"
"Tidak begitu. Saya memilihnya atas kemauan saya sendiri."
"T-tapi... di sana isinya para murid gagal! Ada orang tidak berguna yang sesumbar telah membangkitkan Double Job... bahkan ada Healer yang tidak mampu memberikan satu goresan pun kepada Boneka Abadi! Daripada bersama orang-orang seperti mereka, bukankah lebih baik bersama kami..."
"...Barusan Anda mengatakan apa?"
Begitu mendengar kata "Healer", ekspresi Liliana langsung menghilang.
"Healer yang Anda maksud... apakah Allen-san? Kalau begitu, Anda benar-benar salah besar."
"Eh?"
"Allen-san adalah orang yang luar biasa dan penuh keberanian. Soal kemampuan pun, Anda sama sekali tidak bisa dibandingkan dengannya... Tolong berhenti menghina dermawan yang sangat berjasa bagi saya."
"......!"
Aura sihir dingin memancar dari tubuh Liliana, membuat Albert tanpa sadar mundur selangkah.
Melihat itu, Liliana kembali memasang senyum lembut.
"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Kalau begitu, sampai jumpa."
Lalu dia pun meninggalkan tempat itu.
...Kurang lebih begitulah yang terjadi.
Setelah mendengarnya, aku memijat dahiku dan akhirnya mengerti.
Awalnya Albert memang tidak senang kepada Gray seperti di cerita asli. Namun setelah percakapan itu, kebenciannya kepadaku tampaknya menjadi jauh lebih besar.
"Orang itu benar-benar tidak sopan. Berani-beraninya menghina Tua... ehem, Tuan Allen di depan Yang Mulia Putri. Hampir saja tanpa sadar saya mencabut belati yang ada di balik lengan baju saya."
Mengabaikan gumaman Rose yang terdengar cukup mengerikan, aku kembali menoleh kepada Liliana.
"Aku sudah mengerti kejadiannya. Kau hanya membelaku, jadi tidak perlu merasa bersalah."
"...Terima kasih, Allen-san."
Karena memang Albert sendiri yang memulai semuanya, aku berkata begitu.
Liliana pun tersenyum lega.
Lalu aku menambahkan,
"Tapi ada satu hal yang sedikit menggangguku dari cerita tadi."
"Apa itu?"
"Soal kemampuan bertarungku. Kenapa kau bisa mengatakan kalau murid Kelas E sepertiku mampu mengalahkan murid Kelas A? Apa dasarnya?"
Begitu kutanya, Liliana sempat memandangku dengan bingung sebelum menjawab,
"Dasarnya? Bukankah pada hari itu Allen-san yang memberikan serangan terakhir kepada iblis itu?"
"Hah?"
"Setelah pertarungan itu, level saya naik dari 40 menjadi 45, sedangkan Rose naik dari 51 menjadi 53. Dari cara Allen-san bertarung saat itu, saya memperkirakan level Anda sebelum mengalahkannya sekitar 10. Memang benar Anda hanya memberikan pukulan terakhir, tetapi jika mempertimbangkan kekuatan monster tersebut dan sisa pengalaman yang diperoleh, rasanya tidak aneh jika level Anda naik lebih dari sepuluh tingkat."
Liliana menjelaskan dengan tenang.
"Saya juga mendengar rata-rata level murid Kelas A sekitar 20. Dan saya yakin Allen-san pasti terus berlatih tanpa mengenal lelah setelah itu, jadi saya pikir kemampuan Anda sekarang sudah pasti melampaui mereka. Apa saya salah?"
"............"
Perkataan Liliana memang benar.
Setelah pertarungan melawan Bafor, levelku naik dari 10 menjadi 21.
Sejak itu aku juga berkembang pesat melalui latihan melawan【Boneka Abadi】dan praktik dungeon.
Selain Yuri, seharusnya tidak akan sulit bagiku mengalahkan murid Kelas A lainnya.
Hanya saja, selama ini kukira yang mengetahui kekuatanku hanyalah Luxia dan Yuina.
Namun kalau dipikir-pikir lagi, bagi Liliana yang mengetahui seluruh kejadian hari itu, mencapai kesimpulan seperti itu memang bukan hal yang sulit.
(Jadi sekarang bagaimana...)
Berbagai masalah datang bertubi-tubi hingga membuat kepalaku hampir meledak, tetapi untuk sementara aku memutuskan memikirkan masalah yang paling dekat dulu.
Memang di luar dugaan kalau Albert kini justru akan bertarung denganku. Namun dibanding kemunculan dua War Liger atau kepindahan Liliana, perubahan ini masih tergolong kecil.
Seharusnya masih bisa diperbaiki.
Lagipula, event pertandingan persahabatan ini memang terdiri dari dua tahap.
Tahap pertama, Gray mengalahkan Albert dan membuktikan kemampuannya kepada semua orang.
Namun, di situlah kejamnya DanAka terhadap protagonis maupun pemain.
Setelah itu, Yuri yang juga memenangkan pertandingannya kembali menantang Gray.
Gray menerima tantangan tersebut.
Pertandingan kedua pun dimulai.
Dan sekali lagi, Gray kalah di tangan Yuri.
Dengan begitu, posisi Gray saat ini menjadi jelas.
Ada dua poin penting dalam event ini.
Kalau dua hal itu tetap terjaga, semuanya seharusnya masih bisa diselamatkan.
Meskipun lawan Gray bukan lagi Albert, selama dia tetap menang atas lawannya, lalu kemudian kalah dari Yuri, alur cerita masih bisa diperbaiki.
"Ngomong-ngomong, mungkin ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Allen-san..."
"Hm?"
Tepat saat aku mulai kembali melihat secercah harapan untuk masa depan, Liliana berkata,
"Besok saya akan bertanding melawan Yuri sebagai wakil Kelas A."
........................
Kenapa lagi?!
◇◆◇
Dan tibalah hari pertandingan persahabatan.