Saat sedang menyeruput teh yang diseduhkan Yuina, tiba-tiba dia membuka pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, aku benar-benar kaget. Siapa sangka Allen-kun dipanggil langsung oleh Lady Liliana. Setelah itu, seisi kelas benar-benar heboh, lho."
"...Begitu ya."
Yah, memang wajar. Kalau seorang putri kekaisaran tiba-tiba mengajak bicara rakyat biasa sepertiku, tentu itu akan menjadi kejutan besar bagi yang lain.
Kalau yang dipanggil adalah orang terkuat atau seseorang yang luar biasa mungkin masih masuk akal, tapi aku hanyalah Healer dengan Job gagal yang biasanya duduk diam di sudut kelas.
Meski begitu, aku sempat bingung harus menjelaskan apa kepada Yuina.
Tentu saja kejadian beberapa waktu lalu bukan sesuatu yang boleh disebarluaskan, jadi aku tidak mungkin menceritakan semuanya.
Karena itu...
"Sebenarnya sebelum masuk akademi, aku pernah bertemu dengannya. Sepertinya dia hanya ingin membicarakan sesuatu tentang waktu itu."
"...Begitu ya. Hebat juga ya, Allen-kun."
Melihat Yuina menanggapi dengan santai meski agak berlebihan, aku tiba-tiba teringat kejadian selama seminggu terakhir.
Sejak menyelamatkannya dari War Liger, setiap kali berbicara dengannya aku merasa dia agak menjaga jarak, atau mungkin sedikit canggung.
Aku bahkan sempat khawatir jangan-jangan tanpa sadar telah melakukan kesalahan...
Namun melihat reaksinya sekarang, ditambah lagi dia sampai mengajakku makan siang, mungkin semua itu memang hanya kekhawatiranku sendiri.
Di saat aku sedang memikirkan itu, Yuina dengan hati-hati membuka bungkusan bekalnya lalu membuka kotak makan.
Di dalamnya tersusun berbagai hidangan yang sederhana tetapi dibuat dengan penuh perhatian, seperti tamagoyaki, ayam goreng, ohitashi, dan aneka lauk berwarna-warni lainnya.
"Jadi kau benar-benar membuat sebanyak ini. Sekali lagi maaf sudah membuatmu menunggu. Lagi pula hari ini Luxia juga tidak ada. Sebenarnya kau bisa saja makan duluan bersama teman-temanmu."
"T-ti-tidak kok, aku juga tidak keberatan menunggu! ...Lagipula Chiffon dan Mirya juga menyemangatiku."
Bagian akhirnya dia ucapkan dengan suara pelan sehingga aku tidak begitu mendengarnya.
"Hm? Tadi kau bilang apa?"
"T-tidak ada! Ayo makan!"
Yuina buru-buru mengganti topik.
Pipinya tampak sedikit memerah.
Terlepas dari itu, aku lebih dulu mengambil sepotong tamagoyaki.
Begitu masuk ke mulut, rasa manisnya yang lembut langsung menyebar, membuatku tanpa sadar tersenyum.
"Enak."
"Benarkah? Syukurlah..."
Yuina mengembuskan napas lega sambil mengusap dadanya.
Dan memang, bekal yang dibuatnya benar-benar lezat.
Biasanya aku makan di akademi atau asrama. Karena tempat itu juga diisi para bangsawan, bahan makanannya berkualitas, cara memasaknya baik, dan rasanya pun enak.
Namun bekal ini memiliki kelezatan yang berbeda.
Rasanya sederhana, tetapi memberikan kehangatan dan kenyamanan yang entah kenapa terasa sangat akrab.
Tanpa sadar sumpitku terus bergerak, dan tahu-tahu kotak bekal itu sudah kosong.
"Terima kasih atas makanannya. Benar-benar enak. Makasih sudah repot-repot membuatkannya, Yuina."
"Sama-sama. Hehe, aku senang kau bilang begitu..."
Yuina tersenyum malu-malu, lalu dengan ragu melanjutkan,
"Kalau nanti aku membuat bekal lagi... mau makan bersama lagi denganku?"
"Tentu saja."
Begitu mendengar jawabanku, wajah Yuina langsung berseri-seri.
Sampai-sampai sulit dipercaya kalau sikap canggungnya selama seminggu terakhir itu benar-benar pernah ada. Senyum yang ditunjukkannya sekarang sama sekali tidak terlihat dibuat-buat.
Sambil mengobrol seperti itu, aku menikmati waktu istirahat makan siang yang santai bersama Yuina.
Pagi tadi cukup melelahkan dengan kemunculan Liliana dan berbagai kejadian lainnya, tetapi sekarang rasa lelah itu sudah hilang.
(Tinggal melewati pelajaran sore saja!)
Kurasa hari ini pasti tidak akan terjadi apa-apa lagi.
Sambil berpikir begitu, aku mengangkat kedua tangan lalu meregangkan tubuh.
◇◆◇
Krek.
Setelah jam istirahat makan siang berakhir, saat aku dan Yuina kembali ke kelas, seketika semua mata tertuju kepada kami.
Seperti yang dikatakan Yuina, mereka pasti penasaran kenapa aku dipanggil oleh Liliana.
Namun karena Liliana sendiri berada di dalam kelas, tidak ada seorang pun yang berani menghampiri dan bertanya saat itu.
(...Suasananya aneh juga.)
Sambil berpikir begitu, aku duduk di tempatku. Tak lama kemudian, wali kelas kami, Lion, masuk ke ruangan.
"Baik, kita mulai pelajaran sore."
Beberapa saat setelah pelajaran dimulai.
Meski kelas sedang berlangsung, pintu tiba-tiba terbuka.
"Maaf! Aku terlambat!"
Yang masuk adalah seorang gadis berambut merah muda sebahu dengan mata biru berkilau bak permata, Luxia Photon.
Lion memicingkan mata dengan ekspresi pasrah sebelum berkata,
"Sudah berapa kali kau terlambat, Luxia Photon? Kali ini apa alasannya?"
"Aku kebanyakan tidur!"
"...Begitu ya. Kalau begitu tidak apa-apa. Cepat duduk."
((("Jadi boleh begitu...?")))
Mendengar jawaban yang sama sekali di luar dugaan itu, seisi kelas seolah memiliki pikiran yang sama.
Luxia menggaruk belakang kepalanya dengan tangan kanan sambil tersenyum malu-malu.
"Hehe."
Lalu dia berjalan menuju tempat duduknya... namun tiba-tiba berhenti.
"............"
"...?"
Tatapan Luxia tertuju pada Liliana.
Dia menatap Liliana tanpa berkedip, sementara Liliana hanya memiringkan kepala kecilnya dengan bingung, seolah bertanya apa yang sedang terjadi.
Lalu, sesaat kemudian...
"Ada orang yang tidak kukenal!!!"
Dengan wajah penuh keterkejutan, Luxia berteriak sekeras-kerasnya.